Header Ads

Header Ads

Safari PGRA IV: Belajar dari Sekolah Gajah Wong

Pak Faiz Fachruddin saat menyampaikan tentang Sekolah Gajah Wong

Oleh-oleh dari Sekolah Gajah Wong 
 
“Peran keluarga utamanya orangtua memang sangat penting dalam mendidik dan membentuk karakter anak. Ibarat suatu benda, anak ialah suatu kertas kosong sedangkan orang tua merupakan pena yang digunakan untuk menulis di kertas tersebut. Apa yang akan ditulis di kertas itulah orangtua memiliki peran yang sangat besar khususnya saat anak-anak tersebut masih kecil, setidaknya itulah kesimpulan saya setelah 6 tahun mengamati perilaku masyarakat miskin kota yang ada di bantaran kali Gajah Wong yang kemudian memberikan inspirasi bagi saya dan kawan-kawan untuk membuat suatu lembaga pendidikan bagi anak-anak usia dini“ ungkap Faiz Fachruddin, seorang aktivis dan pegiat pendidikan anak usia dini yang tinggal di bantaran sungai Gajah Wong Yogyakarta saat menyambut kunjungan mahasiswa Pendidikan Guru Raudhatul Athfal (PGRA) Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA)-Pati, pada Sabtu (20/2/16) lalu.
Enam tahun yang lalu, sebelum sekolah ini berdiri para orangtua di sini menganggap anak sebagai sebuah aset. Mereka dipekerjakan sebagai pengemis, pemulung serta pengamen di jalan-jalan maupun perempatan kota. Sejak kecil mereka memang telah dijauhkan dari dunia pendidikan karena selain faktor biaya, umumnya anak-anak tersebut tidak memiliki surat-surat kelengkapan administratif seperti Kartu Keluarga (KK), Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kata kelahiran, untuk mendaftar ke sekolah-sekolah. Hal ini kemudian menjadi sebuah kewajaran saat menengok ke belakang jika orangtua mereka juga tidak memiliki kelengkapan data administratif yang sama. Para orangtua ini kebanyakan merupakan masyarakat miskin yang awalnya merantau ke kota, tapi karena tidak mampu bertahan dalam ketatnya persaingan hidup di kota maka mereka menjadi orang-orang yang terpinggirkan. Sedangkan jika untuk pulang kembali ke kampung halaman mereka malu, maka akhirnya merekapun memilih “jalan lain“ dengan tinggal di kolong jembatan, pinggiran sungai, tanah ilegal dan seterusnya. Maka tak heran jika kemudian anak-anak mereka juga memiliki nasib yang hampir serupa dengan para orangtuanya.
Berdasarkan keprihatinan atas realita itulah Faiz beserta beberapa teman aktivis, relawan, dan dibantu masayarakat sekitar berinisiatif untuk membuat suatu konsep dangan harapan agar mampu berkontribusi menciptakan perubahan perilaku dan cara pandang masyarakat bantaran sungai Gajah Wong mengenai anak-anaknya. Konsep itulah yang kemudian diaplikasikan dengan mendirikan lembaga Pendidikan Anak Usia Dini yang diberi nama Sekolah Gajah Wong. Nama dari sekolah ini sendiri diambil dari sungai yang ada di belakang bangunan sekolah yang benama sungai Gajah Wong. Sekolah ini mempunyai 2 kelas. Kelas pertama disebut kelas akar yang diperuntukkan bagi siswa usia 3-5 tahun. Sedangkan kelas kedua disebut kelas rumput yang peserta didiknya telah berusia 5-7 tahun.
Didirikannya Sekolah Gajah Wong sebagai “alat perubahan“ yang dipilih oleh Faiz dan kawan-kawan bukanlah suatu hal yang kebetulan atau sekedar asal-asalan saja, tapi lebih dikarenakan berasal dari keprihatinan mereka atas nasib-nasib anak yang tinggal di wilayah tersebut. Di usianya yang masih belia seharusnya mereka mendapatakan pendidikan yang cukup untuk bekal mereka dewasa kelak. Selain itu harapan lain dengan mendirikan sekolah ini ialah agar dapat memutus mata rantai perilaku dan cara pandang masyarakat sekitar mengenai anak-anaknya. Selian itu, karena konsep awal sekolah ini adalah sekolah bagi masyarakat miskin maka para siswa juga tidak dibebani biaya apapun, alias GRATIS.
Keberadaan sekolah yang GRATIS ini bukan berarti tanpa perjuangan. Apalagi sekolah ini tidak berada di atas lahan yang “legal“ atau jika Faiz menyebutnya berada di “Tanah Tuhan“. Karena keTIDAK LEGALan itulah sekolah ini tidak pernah sekalipun mendapatkan bantuan dari Dinas. Akan tetapi hal itu tidak menyurutkan Faiz dan kawan-kawan untuk berkreasi. Mereka membuat peternakan kambing, perkebunan sayur, dan bank sampah untuk mencukupi biaya operasional sekolah. Selain itu mereka juga mencari donatur dari pengusaha coklat, restoran, serta simpatisan lain yang sifatnya tidak mengikat. Sedangkan untuk media dan alat pembelajaran menggunakan sistem 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle) atau menggunakan limbah barang bekas yang masih bisa digunakan, mengurangi barang yang menghasilkan sampah, serta mendaur ulang sampah-sampah tersebut menjadi kreasi alat permainan yang edukatif.
Setelah enam tahun keberadaannya, saat ini masyarakat sekitar telah memiliki sudut pandang yang berbeda terhadap anak-anaknya. Hal ini terbukti dengan banyaknya orangtua yang menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut. Saat ini hampir semua anak-anak yang tinggal di wilayah tersebut mengenyam pendidikan di Sekolah Gajah Wong. Bahkan karena keterbatasan ruangan, siswa-siswa yang ingin mendaftar di sekolah tersebut harus indent / antri agar semuanya bisa mendapatkan pendidikan yang cukup.
(Disimpulkan berdasarkan penuturan Faiz Fachruddin salah satu pendiri Sekolah Gajah Wong Yogyakarta dan masyarakat sekitar sekolah, saat penulis menjadi pendamping dalam kegiatan study tour / kunjungan mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Raudhatul Athfal (PGRA) Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati Jawa Tengah di Yogyakarta pada Sabtu 20 Februari 2016).


Tampak dari samping

Para mahasiswa saat audiensi di Musholla Gajah Wong
Salah satu kondisi kelas Sekolah Gajah Wong
Pemberian Cinderamata dan kenang-kenangan

Post a comment

0 Comments