A.    Zaenurrosyid, SHI.MA[2]
             Dalam perkembangan pendidikan anak bangsa di era kekinian, ada dua kondisi menggembirakan, dan ada situasi yang meresahkan. Kebahagian itu tampak ketika melihat tumbuh kembang anak-anak sekarang ini terlihat lebih cerdas dan “melek” dengan perkembangan zaman, mereka  familiar dengan alat-alat komunikasi maupun prestasi-prestasi akademik lainnya.  Kegembiraan ini memudar ketika dihadapkan pada situasi perkembangan anak-anak kekinian yang relatif mengalami kekurangan perhatian maupun pendampingan dari orang tuanya secara langsung.
            Satu-satunya pemicu adalah karena terdorongnya orang tua untuk larut dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi, tidak hanya ayah yang harus sibuk dengan dunia kerja, namun ibu sebagai basis penyanggah pendidikan karakter anak dipaksa oleh kondisi ekonomi keluarga untuk bekerja. Problem baru yang muncul kemudian adalah siapa yang harus mengawal penuh pendidikan karakter anak, apakah ayah, ibu atau sepenuhnya diserahkan kepada sekolah yang minim dalam memperhatikan persoalan pendidikan karakter anak atau justru pembantu?
            Dalam konteks demikian, maka posisi ayah dalam relasi ekonomi dan perannya terhadap pendidikan anak baik di rumah  maupun di sekolah tetap menjadi penyokong utama. Orang tua secara normatif merupakan pihak pendidik lahir batin anak. Sekolah merupakan wilayah ekternal yang menjadi media pendidik anak di luar pendidikan dalam keluarga. Seorang ayah sebagai kepala keluarga menjadi penanggungjawab utama untuk menjaga kondusifitas keluarga di lingkungan internal. Sedangkan lembaga pendidikan seperti sekolah memiliki peran di lingkungan ekternalnya.
Dalam perannya sebagai ayah, sesungguhnya ia menjadi centra yang akan menentukan tumbuh-kembang kecerdasan anak-anaknya. Setidaknya kita mengenal adanya kecerdasan spiritual,kecerdasan linguistik (merangkai kalimat, bercerita), kecerdasan logika dan matematika (cerdas angka dan rasional, pemecahan masalah), kecerdasan spasial (cerdas ruang/tempat/gambar), kecerdasan kinestetika-raga (cerdas raga, olah tubuh), kecerdasan musik (nada, irama, lagu, musik), kecerdasan interpersonal (memahami dan menyesuaikan diri dengan oranglain), kecerdasan intrapersonal (memahami dan kontrol diri sendiri), kecerdasan naturalis (menikmati dan memanfaatkan alam untuk kebaikan lingkungan).  Kecerdasan-kecerdasan anak ini sangat ditentukan oleh empat dimensi utama yang harus terpenuhi orang tua, yaitu kebutuhan spiritualitas, kebutuhan nalar intelektualitas, pemenuhan kebutuhan emosional,  dan pemenuhan ketangguhan fisik  yang kesemuannya itu adalah dipengaruhi oleh lingkungan prenatal  dan postnatalanak oleh orang tuanya.
Di sisi lain, secara faktual semakin menggejala kondisi sosio-anak yang berada dalam kondisi terasing dari kasih sayang dan perhatian orang tuanya, bahkan anak masih dipaksakan dengan target-target prestasi akademik di sekolah. Padahal kebutuhan anak yang mendasar selain kebutuhan tumbuh kembang fisik adalah kebutuhan bermain. Orang tua terutama ayah kadang terlupakan bahwa banyak manfaat dari permainan anak diantaranya adalah  bermain adalah  pertamabermain sebagai salah satu cara untuk membentuk kepribadian dan kecerdasan anak. Kedua adalah dalam melakukan aktivitas bermain, anak tidak menyadari kalau dirinya juga belajar. Mereka bermain dengan perasaan senang, lucu, spontan, dan tidak ada unsur paksaan.  Dan ketiga dengan bermain anak selalu gembira yang kondisi inilah akan memiliki dampak langsung pada pertumbuhan badan dan perkembangan jiwa yang baik.
Dengan demikian ada beberapa upaya mendesak sebagai antisipasi yang harus diperankan oleh “super dady” dalam keluarga: pertamaadalah adanya kesediaan orang tua terutama ayah untuk menyediakan waktu  bagi tumbuh kembang anak. Kedua adalah pemberian rizki yang halal bagi keluarga khususnya bagi tumbuh kembang fisik maupun batin anak selain penyediaan fasilitas bermain yang memadai untuk mendorong tumbuh kembang anak berikut karakter keunikannya dalam kecerdasan masing-masing anak. Ketiga adalah ada upaya integrasi  keselarasan model pendampingan tumbuh-kembang anak baik fisik maupun mental dalam keluarga dan pendidikan formalnya.
Dalam hal ini, setting pendidikan khusus perlu dijalankan, yakni suatu pola kolaborasi antara sekolah dengan keluarga dengan jalan pelibatan orang tua (anggota keluarga) dalam mengembangkan program-program pembelajaran di sekolah. Selain itu perlu juga untuk merancang sejumlah tujuan yang riil & konsisten serta reward yang bisa diberikan oleh orang tua (keluarga) pada selain pengembangan strategi untuk siswa agar ia melihat bahwa rumah & sekolah adalah area untuk “berprestasi”. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah menjadwalkan pertemuan rutin antara guru dan orang tua, sehingga terjalin kepercayaan dan keakraban di antara anak, orang tua dan guru.




[1] Essay  ini menjadi bahan pemantik dalam dalam diskusi  program Prodi Pendidikan Guru Raudhatul Athfal (PGRA ) Institut Pesantren Mathaliul Falah akhir bulan Maret 2016.
[2] Penulis adalah dosen IPMAFA, masih aktif sebagai mahasiswa program doktoral UIN Walisongo Semarang. Penulis alumni dari magister Cross Cultural and Religious Centre Universitas GadjahMada Yogyakarta dan fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pernah mengeyam pendidikan di Hamilton Collage, Adelaide Australia 2010-2011.
Share To:

Post A Comment:

0 comments so far,add yours